Ramadhan

Kultum Ramadhan : Membahagiakan Keluarga, Ibadah Mulia yang Sering Terlupa

Keimanan – #Dalam #kehidupan #sehari-hari, #kita #sering #berusaha #menebar #kebaikan #kepada #banyak #orang. Kita merasa bahagia ketika dapat membantu teman, tetangga, atau orang lain yang membutuhkan. Namun tanpa disadari, terkadang kita justru kurang memberikan perhatian dan perlakuan terbaik kepada keluarga sendiri. Padahal dalam ajaran Islam, keluarga merupakan pihak yang paling berhak mendapatkan kebaikan, perhatian, dan kasih sayang dari kita. Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa membahagiakan keluarga bukan hanya kewajiban, tetapi juga termasuk ibadah yang memiliki pahala besar di sisi Allah SWT.

Baca juga: Tafsir Kepemimpinan Nabi Sulaiman: Pemimpin Adil yang Mendengar Suara Rakyat Kecil dalam Perspektif Al-Qur’an

Karena di dalam Al-Qur’an urutan ini dijelaskan secara langsung pada surat An-Nisa ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ

Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 36 ini mengisyaratkan bahwa urutan berbuat baik yang harus kita dahulukan ialah kedua orang tua dan kerabat atau keluarga. Baru setelahnya kita diperintahkan untuk melakukan kebaikan kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga, teman dan orang lain yang membutuhkan.

Hal ini dilandasi atas sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, bersumber dari Jabir bin Abdillah:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌ابْدَءُوْا ‌بِمَا ‌بَدَأَ ‌اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ

Artinya:
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Mulailah (mengerjakan sesuatu) sesuai dengan apa yang dimulai (atau yang diurutkan) oleh Allah dengannya.” (HR. Baihaqi)

Selanjutnya, mengutamakan berbuat baik kepada keluarga juga disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw, dengan menggunakan narasi, bahwa pemberian yang terbaik, ialah sesuatu yang diserahkan kepada keluarga terlebih dahulu.

Sebagaimana dirincikan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Tsauban:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌أَفْضَلُ ‌دِينَارٍ ‌يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ عَلَى دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَدِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى أَصْحَابِهِ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ

Artinya:
Dari Tsauban, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
“Sebaik-baik Dinar (yakni, uang emas atau alat transaksi di masa Nabi) pemberian laki-laki ialah yang ia berikan kepada keluarganya, kemudian Dinar yang ia belanjakan untuk hewan ternaknya di jalan Allah, dan Dinar yang ia berikan kepada sahabatnya.” (HR. Muslim)

Sementara itu, Nabi Saw juga membuktikan bahwa berbuat baik kepada keluarga adalah amal yang tidak bisa disepelekan. Karena hal tersebut, beliau secara tegas mengatakan, bahwa beliau pun selalu memperlakukan keluarganya dengan sangat baik.

Baca juga: Amalan Pembuka Pintu Rezeki Agar Hidup Berkecukupan: Doa, Zikir & Hikmah Dalam Islam

Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bersumber dari Ibnu Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ ‌خَيْرُكُمْ ‌لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya:
“Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw, beliau bersabda:
“Sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku merupakan orang yang paling baik kepada keluargaku di antara kalian.” (HR. Ibnu Majah)

Lebih jauh, istri Rasulullah, sayyidah Aisyah binti Abu Bakar menjelaskan bahwa Nabi Muhammad juga berbuat baik kepada keluarganya. Jamak sekali Rasulullah membantu meringankan pekerjaan istrinya, semisal mengerjakan pekerjaan rumah. Nabi bersabda:

عَنِ الْأَسْوَدِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ: مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‌يَصْنَعُ ‌فِي ‌أَهْلِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ.

Artinya:
Dari al-Aswad, ia berkata, aku bertanya kepada Aisyah, apa yang dilakukan oleh Nabi Saw ketika berada di tengah-tengah keluarganya? Aisyah menjawab:
“Nabi Saw biasanya melakukan pekerjaan rumah. Namun apabila waktu shalat telah tiba, ia bergegas melaksanakannya.”

Terakhir, ganjaran yang diberikan Allah SWT kepada laki-laki yang selalu mendahulukan perlakuan baik atau memberikan sesuatu kepada keluarganya, setara dengan pahala bersedekah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Abu Mas’ud:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ‌إِذَا ‌أَنْفَقَ ‌الرَّجُلُ ‌عَلَى ‌أَهْلِهِ النَّفَقَةَ يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ

Artinya:
Dari Abu Mas’ud al-Badri, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:
“Apabila seorang laki-laki menyerahkan pemberian kepada keluarganya berupa nafkah yang ia usahakan, maka (ganjaran) bagi laki-laki tersebut, setara dengan sedekah.” (HR. Muslim)

Demikianlah penjelasan tentang urgensi mendahulukan kebahagiaan keluarga atau kerabat. Sering kali kita merasa senang dan puas hati telah membahagiakan teman dan sahabat, akan tetapi ketika melakukan usaha yang sama kepada keluarga, kita cenderung biasa-biasa saja.

Padahal, dalam Al-Qur’an jelas bahwa kebaikan itu dimulai dari yang paling dekat hubungannya dengan kita. Dimulai dari orang tua, lalu kerabat, tetangga, kemudian orang yang memiliki hubungan yang jauh, seperti teman atau sahabat.

Baca juga: Amalan Saat Gerhana Bulan: Panduan Ibadah & Doa Sunnah Menurut Islam

Karenanya, kita juga perlu mencontoh apa yang dilakukan Nabi kepada keluarganya. Beliau selalu mendahulukan kebahagiaan untuk keluarganya. Sampai-sampai ia gemar membantu mengerjakan urusan rumah tangga. Wallahu a’lam.

Sumber: islam.nu.or.id


Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Popular

To Top