Khutbah Jumat Makna Puasa Ramadhan Agar Tidak Sekedar Lapar dan Dahaga

Keimanan – #Puasa #Ramadhan #sering #kali #dipahami #hanya #sebagai #kewajiban #menahan #lapar dan #dahaga #dari #fajar #hingga maghrib. Namun sesungguhnya, Ramadhan adalah momentum istimewa untuk meraih perubahan spiritual dan kualitas pribadi seorang muslim yang lebih baik. Dalam khutbah Jumat bertajuk “Agar Puasa Kita Tak Sekedar Lapar dan Dahaga,” kita diajak untuk merenungkan esensi puasa yang jauh lebih dalam, serta bagaimana mengisi bulan suci ini dengan ibadah, introspeksi, dan amal kebaikan yang hakiki.
Baca juga: Mengungkap Hikmah & Kisah di Balik Rakaat Shalat

KHUTBAH JUM’AT:
Agar Puasa Kita Tak Sekedar Lapar dan Dahaga
oleh Shohibul Anwar, M.H.I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Sudah kita pahami bersama bahwa Ramadhan menawarkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan. Tetapi ada peringatan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang hendaknya kita renungkan baik-baik.
Rasulullah bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga” (HR Ath-Thabrani).
Sudah berapa kali dalam hidup kita melewati Ramadhan demi Ramadhan dan apa yang kita dapatkan selama ini. Kalau usia kita 40 tahun berarti kita sudah menjalani puasa sebulan penuh kira-kira 25 kali dalam 25 tahun terakhir sejak kita baligh.
Lantas, perubahan apa yang telah kita dapatkan?
Ramadhan menawarkan momentum perubahan yang fundamental bagi pribadi seorang mukmin maupun kehidupan umat Islam secara keseluruhan. Peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah umat Islam terjadi di bulan Ramadhan.
Perang Badar, pembebasan Mekkah (Fatkhul Makkah), sebagian peristiwa pada Perang Tabuk, pembebasan Andalusia (Spanyol) oleh Thariq bin Ziyad, dan sebagainya, termasuk proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi di bulan Ramadhan.
Di bulan Ramadhan ini orang beriman diharuskan meninggalkan makan, minum, melakukan hubungan seksual, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Diperintahkan kepada kita untuk menjaga mata, telinga, lisan, tangan, kaki, pikiran dan hati kita dari segala kemaksiatan.
Diperintahkan kepada kita untuk memperbanyak ibadah sunnah di samping tetap memperbaiki ibadah-ibadah wajib. Kalau itu semua kita lakukan dengan benar tentu akan ada perubahan besar dalam hidup kita.
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Untuk itu mari kita renungkan kembali apa sesungguhnya esensi Ramadhan itu bagi kehidupan kita.
Pertama; Ramadhan Bulan Tarbiyah (Pendidikan)
Setiap manusia sesungguhnya dilahirkan dalam keadaan fithrah. Inilah kondisi ideal bagi manusia karena ia telah bertauhid semurni-murninya sejak di dalam kandungan sampai ia dilahirkan.
Jiwa yang bertauhid inilah yang menjadikan manusia selalu merindukan kebaikan, kebenaran, dan keindahan yang sempurna yang hanya bisa ia dapatkan ketika ia mendekat kembali kepada Penciptanya.
Setelah dilahirkan ke dunia, manusia yang dalam dirinya melekat hawa nafsu, berinteraksi dengan lingkungannya dan dipengaruhi godaan setan. Kondisi ini bisa merusak fithrahnya. Karena itu pendidikan yang sesungguhnya adalah mendidik diri agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan memiliki imunitas (kekebalan) dari berbagai godaan.
Sesungguhnya nafsu adalah anugerah Allah bagi manusia agar memiliki gairah dan semangat untuk keberlangsungan hidupnya. Tidak ada nafsu tidak ada kehidupan. Nafsu yang terkendali, seperti kuda tunggangan, akan mengantarkan manusia mencapai tujuannya.
Jika tidak terkendali, maka ia akan menyeret kita tak tentu arah dan tujuan. Ketika nafsu terkendali manusia akan kembali kepada keadaan fithrahnya. Karena itu puasa bukan sekedar lapar dan dahaga, tetapi pengendalian diri secara total dan pembebasan diri dari segala dominasi hawa nafsu.
Bukan sekedar tidak makan dan tidak minum tetapi juga tidak memakan yang bukan hak kita. Bukan sekedar puasa jasmani tetapi juga mempuasakan mata, telinga, lisan, kaki, tangan, hati, pikiran, dan perasaan kita dari segala kemaksiatan.
Baca juga: Doa Cinta Allah dan Rasul
Sabda Nabi:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
“Puasa bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan yang sia-sia serta menjauhi perbuatan-perbuatan yang kotor dan keji.” (HR Bukhori)
Kedua; Ramadhan Bulan Ibadah
Ibadah sesungguhnya memiliki dimensi yang sangat luas mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan, yang nampak (dzahir) ataupun yang tidak nampak (bathin).
Tetapi, di bulan Ramadhan kita diperintahkan mengkhususkan diri taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kita; sholat lima waktu berjamaah di masjid ditambah dengan sholat sunnah qabliyah dan ba’diyah, bangun di tengah malam untuk tahajjud, doa, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, dan beri’tikaf di masjid terutama pada sepuluh hari terakhir.
Sebelas bulan kemarin kita dibelit oleh kesibukan duniawi. Pada Ramadhan saatnya kita rihlah, mentamasyakan jiwa kita yang selama ini terlantar. Bebaskan diri kita dari segala kesempitan dunia dan mendekatlah kepada Allah yang maha luas rahmat-Nya. Mari kita sambut undangan Allah sebagaimana sabda Nabi:
يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Di bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan setan-setan dipenjara. Di bulan Ramadhan, ada satu malam yang lebih baik dari malam seribu bulan. Orang yang terhalang dari kebaikannya, sungguh ia benar-benar terhalang dari kebaikannya itu” (H.R. Ahmad dan An Nasa’i).
Ketiga; Ramadhan Bulan Muhasabah (Instropeksi Diri)
Kesibukan hidup seringkali membuat kita kehilangan kejernihan. Berbagai persoalan bertumpuk-tumpuk dan tidak menemukan jalan keluarnya. Banyak orang yang mencari alternatif ke arena-arena hiburan. Apa yang mereka dapatkan? Ketenangan, kejernihan berpikir, atau ketajaman wawasan?
Justru arena-arena hiburan itu akan menambah permasalahan, membebani otak, dan menumpuk berbagai permasalahan baru. Di sana kerakusan nafsu dan keberingansan hewani akan terpupuk.
Di bulan Ramadhan nafsu ditundukkan, jiwa akan menjadi lebih tenang. Dalam kondisi ini kita akan lebih jelas melihat persoalan hidup. Sebelas bulan kita cenderung lalai, kini saatnya bermuhasabah untuk menata kembali orientasi hidup kita. Pesan Nabi:
الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
“Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keempat; Ramadhan Bulan Taubat
Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan. Dan sebaik-baik hamba yang berdosa adalah yang bertaubat kepada-Nya. Tetapi ketika dosa sudah bertumpuk-tumpuk, berurat dan berakar, bukan perkara mudah untuk bertaubat.
Ibarat tanaman yang baru tumbuh, mudah bagi kita untuk mencabutnya. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar, tidak mudah kita mencabutnya apalagi ketika tenaga kita semakin melemah. Dibutuhkan energi ruhani yang luar biasa untuk berhenti dari setiap kemaksiatan.
Di bulan Ramadhan pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, dan nafsu dikendalikan. Situasi ini sangat kondusif bagi kita untuk mengakhiri semua pelanggaran. Tentu saja ukuran kebenaran taubat kita adalah ketika kita nanti tidak mengulanginya lagi selepas Ramadhan.
Allah menawarkan ampunan bagi setiap hamba yang berdosa untuk kembali kepada-Nya. Rasulullah bersabda:
إِِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ اللَّهُ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسلِمِيْنَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِعيمَانًا
“Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah)
Kelima; Ramadhan Bulan Jihad
Turunnya perintah puasa di bulan Ramadhan beriringan dengan perintah jihad dalam Perang Badar pada tahun kedua hijriah. Kaum muslimin berperang dengan orang-orang kafir di bulan itu dengan tetap berpuasa. Puasa dan jihad sesungguhnya memiliki esensi yang sama yaitu berperang, terutama memerangi hawa nafsu.
Tidak mungkin orang akan berangkat berperang melawan musuh Allah kalau ia tidak bisa memerangi nafsunya sendiri. Demikian juga tidak mungkin orang bisa berpuasa dengan benar kalau dia tidak memerangi hawa nafsunya.
Karena itu sangat disayangkan di bulan Ramadhan ini sebagian umat Islam justru memupuk nafsu bermalasan dan memperbanyak tidur.
Menjadi pemandangan yang lumrah tetapi memprihatinkan, sebagian kaum muslimin melakukan hal yang sia-sia, bahkan maksiat; menunggu buka puasa dengan panggung hiburan musik, kebut-kebutan liar, main petasan, bahkan di beberapa tempat ada tradisi berjudi; malam hari di isi dengan begadang, mengobrol dan senda gurau; dan tradisi-tradisi lain, baik yang lama (dari nenek moyang) maupun tradisi baru, yang tidak ada hubungannya dengan ibadah Ramadhan.
Karena itu, mari kita menempa diri di bulan ini dengan bersungguh-sungguh berperang untuk menundukkan hawa nafsu kita dan bersungguh-sungguh meraih setiap keutamaan di bulan ini.
Keenam; Ramadhan Bulan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
“Bulan Ramadhan bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil),” (QS. Al-Baqarah: 185).
Al-Quran adalah pedoman hidup yang tidak boleh lepas dari kehidupan seseorang. Tanpa Al-Qur’an manusia seperti berjalan di tengah malam gelap gulita tanpa cahaya. Mari kita jadikan diri kita pribadi qur’ani. Keluarga kita keluarga qur’ani. Anak-anak kita generasi qur’ani. Dan masyarakat kita masyarakat qur’ani.
Mari kita bebaskan diri dari buta huruf dan buta makna Al-Quran dengan membacanya, memperbaiki bacaan, menterjemah, mempelajari tafsirnya, dan mentadabburinya (mengambil hikmah darinya).
Ketujuh; Ramadhan Bulan Ukhuwwah
Di bulan Ramadhan kaum muslimin banyak bertemu dan berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama dalam ibadah ritual maupun ibadah sosial. Bahkan sabda Nabi berikut ini mengisyaratkan kepada kita agar membangun kebersamaan dan persatuan umat Islam.
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ, وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ
“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam) berpuasa, hari raya adalah pada saat kalian berhari raya” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Karena itu mari kita hindari perdebatan dan pertengkaran dalam hal-hal yang bersifat khilafiyah – furu’iyah. Para da’i, khatib, ustadz hendaknya menyampaikan pesan-pesan ukhuwwah, bukan malah memperuncing perbedaan yang memang tidak mungkin disamakan.
Perbedaan dalam masalah-masalah khilafiyah – furu’iyah pasti akan terus terjadi, tetapi menjaga ukhuwwah adalah kewajiban kita. Mari kita memperbanyak silaturrahim, saling memaafkan dan memperbaiki hubungan, saling memberikan hadiah, saling menasehati, saling mendoakan.
Kedelapan; Ramadhan Bulan Sedekah
Puasa mengingatkan kita tentang orang-orang yang kelaparan karena kemiskinan dan kefakiran, yang kadang-kadang tak diketahui oleh orang-orang kaya. Allah hendak memberi kabar kepada mereka bahwa di sana ada saudara-saudara mereka yang tidur beralaskan tanah dan berselimut langit, tanpa secuil makanan.
Kalau kita lapar selama sebulan, ketahuilah orang lain telah merasa lapar selama berbulan-bulan. Mari kita jadikan puasa sebagai momentum untuk meningkatkan kedermawan dan solidaritas sosial. Hindari segala sikap berlebih-lebihan, berfoya-foya, pemborosan yang bisa menumpulkan jiwa sosial kita.
Siapkan harta untuk menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan memberi makan orang-orang yang berpuasa. Ibnu Abbas meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril. Jibril biasa menemui beliau di setiap malam bulan Ramadan, lalu beliau saling mempelajari Al-Qur`an dengannya. Sungguh Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam kebaikan dibanding angin yang berhembus” (HR Muttafaq ‘alaih)
Kesembilan; Ramadhan Bulan Dakwah
Dakwah adalah mempertautkan hati manusia dengan hidayah Allah dan merubah jiwa manusia kepada kondisi yang lebih baik dan diridhoi Allah. Hati manusia senantiasa berbolak-balik. Kadang menerima, kadang menolak. Kadang terbuka, kadang tertutup. Kadang semangat, kadang mengendor.
Kita diperintahkan berdakwah kepada manusia dengan cara yang baik. Allah Subhaanahu wa ta’aalaa berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik,” (QS An-Nahl: 125).
Pada bulan Ramadhan jiwa-jiwa manusia lebih terbuka sehingga lebih mudah menangkap hidayah Allah. Karena itu mari kita gencarkan syiar Islam dan semarakkan dengan aktifitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah dan sebagainya. Semoga dengan demikian semakin banyak umat Islam ini yang tercerahkan.
Demikianlah berbagai hal yang menjadi esensi Ramadhan. Semoga puasa kita tidak sia-sia. Tidak sekedar lapar dan dahaga.
Baca juga: Kesombongan dalam Komunikasi: Virus Ganas yang Merusak Hubungan dan Menghalangi Kesuksesan
Semoga kita bisa menjalani Ramadhan pada tahun ini sebaik-baiknya dan berhasil meraih berbagai kemuliaan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
Do’a Penutup
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
!عِبَادَاللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ




