Keutamaan Bertani dalam Islam: 7 Syarat Meraih Keberkahan Pertanian Menurut Ulama dan Hadits Lengkap

Keimanan – #Data #terbaru #menunjukkan #bahwa #sektor #pertanian #Indonesia #sedang #menghadapi #tantangan #besar sekaligus peluang yang sangat penting. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani perorangan di Indonesia tercatat sekitar 29,34 juta orang. Angka ini menurun sekitar 7,45 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Jumlah usaha pertanian perorangan juga mengalami penurunan dari 31,71 juta unit pada tahun 2013 menjadi 29,34 juta unit pada 2023. Namun di sisi lain, sektor pertanian tetap menjadi salah satu penopang utama tenaga kerja nasional. Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat tenaga kerja sektor pertanian mencapai sekitar 38,30 juta orang pada Februari 2024 dan meningkat menjadi 38,99 juta orang pada Februari 2025.
Baca: Siapa yang Paling Utama Menyembelih Hewan Kurban? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Syariat Islam

Fenomena ini menggambarkan dua sisi realitas yang berjalan bersamaan. Pertanian masih menjadi sumber kehidupan jutaan masyarakat Indonesia, tetapi pelaku utamanya semakin didominasi usia lanjut. Mayoritas petani saat ini berusia di atas 45 tahun. Hal tersebut menjadi tanda nyata bahwa regenerasi petani sedang menghadapi krisis serius.
Meski demikian, sektor pertanian tetap menjadi profesi yang sangat penting. Tidak hanya sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai ruang penghidupan yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun status sosial.
Dalam perspektif Islam, bertani bahkan bukan sekadar aktivitas ekonomi. Profesi ini memiliki nilai ibadah dan keutamaan tersendiri. Bertani dipandang sebagai pekerjaan mulia karena manfaatnya dirasakan banyak makhluk hidup, mulai dari manusia, hewan ternak, hingga lingkungan sekitar.
Bertani dalam Islam Bukan Profesi Kelas Dua
Dalam khazanah Islam klasik, para ulama membagi sumber penghidupan utama atau ushûlul mukâsabah menjadi beberapa jenis profesi penting. Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah sektor pertanian.
Sebagian ulama bahkan menempatkan profesi petani sebagai salah satu pekerjaan paling mulia (ath-yab al-mukâsabah). Pandangan ini bukan karena romantisme kehidupan desa atau pekerjaan alam terbuka, tetapi karena luasnya manfaat yang dihasilkan dari pertanian.
Hasil pertanian tidak hanya dinikmati petani sendiri, tetapi juga memberi kehidupan bagi manusia lain, hewan ternak, burung, dan berbagai makhluk hidup lainnya.
Baca: Hukum Berkurban untuk Diri Sendiri atau Orang Tua, Mana yang Lebih Utama?
Rasulullah SAW pernah menjelaskan tentang profesi terbaik dalam mencari nafkah melalui sabdanya:
Hadits Tentang Profesi Terbaik
عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
Artinya:
“Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (jujur dan tanpa penipuan).” (HR Imam Al-Baihaqi).
Hadits tersebut menjadi dasar para ulama dalam membahas profesi paling utama dalam Islam. Imam An-Nawawi termasuk ulama yang menilai bahwa pertanian memiliki keutamaan yang sangat besar dibanding sebagian profesi lain.
Syekh Jamaluddin Muhammad Al-Hubaisyi dalam kitab Al-Barakah fi Fadhlis Sa’yi wal Harakah menjelaskan:
الزِّرَاعَةُ أَفْضَلُهَا كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ لِأَنَّ نَفْعَهَا يَتَعَدَّى إِلَى غَيْرِ الزَّارِعِ مِنَ الطُّيُورِ وَالْبَهَائِمِ وَكَثِيرٍ مِنَ الْحَيَوَانَاتِ وَمَا كَانَ مُتَعَدِّيًا فَهُوَ أَفْضَلُ مِنَ اللَّازِمِ فِي غَالِبِ الْأَوْقَاتِ
Artinya:
“Profesi pertanian merupakan profesi paling utama sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi, karena manfaatnya menjangkau selain petani, seperti burung, hewan ternak, dan banyak hewan lainnya. Sesuatu yang manfaatnya meluas kepada banyak pihak lebih utama daripada manfaat yang terbatas.”
(Al-Barakah fi Fadhlis Sa’yi wal Harakah, hlm. 48).
Banyak Ayat dan Hadits Menjelaskan Keutamaan Pertanian
Al-Qur’an dan hadits banyak membahas tentang pertanian, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan pertanian antara lain:
- Surat Al-An’am ayat 99 dan 141
- Surat Ar-Ra’d ayat 4
- Surat An-Nahl ayat 11
- Surat As-Sajdah ayat 27
Sementara itu, salah satu hadits paling terkenal mengenai keutamaan bertani diriwayatkan Imam Muslim:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Artinya:
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan burung, manusia, atau hewan ternak, kecuali itu menjadi sedekah baginya.” (HR Imam Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa hasil pertanian bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga bernilai sedekah yang terus mengalir.
7 Syarat Memperoleh Keutamaan Bertani Menurut Islam
Syekh Jamaluddin Muhammad Al-Hubaisyi menjelaskan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada teknik bercocok tanam, tetapi juga pada keberkahan hidup petani. Dalam kitabnya, beliau menyebutkan tujuh syarat agar pertanian membawa keberkahan.
1. Menjaga Kehalalan Tanah Pertanian
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَخَذَ أَرْضًا بِغَيْرِ حَقِّهَا كُلِّفَ أَنْ يَحْمِلَ تُرَابَهَا إِلَى الْمَحْشَرِ
Artinya:
“Barang siapa mengambil tanah tanpa hak, maka ia akan dipaksa memikul tanah itu di padang mahsyar.” (HR Imam Ahmad).
Islam menegaskan bahwa tanah yang digunakan bertani harus benar-benar halal dan bukan hasil perampasan atau sengketa.
2. Menunaikan Zakat Pertanian
Rasulullah SAW bersabda:
مَانِعُ الزَّكَاةِ فِي النَّارِ
Artinya:
“Orang yang enggan berzakat berada di neraka.” (HR Imam Ath-Thabrani).
Zakat menjadi syarat penting agar hasil panen bersih dan membawa keberkahan.
3. Menjaga Shalat Tepat Waktu
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 103:
اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Artinya:
“Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.”
Kesibukan bertani tidak boleh membuat seseorang melalaikan shalat wajib.
4. Memahami Ilmu Pertanian
Islam mendorong umatnya bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Petani juga harus memahami teknik bercocok tanam, pengelolaan lahan, hingga cara menjaga hasil pertanian agar maksimal dan berkelanjutan.
5. Menjaga Hubungan Baik dengan Keluarga dan Tetangga
Lahan pertanian biasanya berdampingan dengan masyarakat sekitar. Karena itu, petani dianjurkan menjaga hubungan baik dengan tetangga dan tidak mengabaikan hak keluarga akibat kesibukan bekerja.
6. Bertaubat dan Menjauhi Dosa
Profesi pertanian merupakan pekerjaan mulia yang juga pernah dijalani para nabi seperti Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Ayyub AS. Karena itu, seorang petani dianjurkan menjaga akhlak dan menjauhi dosa seperti ghibah serta adu domba.
7. Berlaku Adil dalam Wasiat dan Warisan
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 11:
يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۚ
Artinya:
“Allah mensyariatkan kepadamu tentang pembagian warisan untuk anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan.”
Keadilan dalam urusan harta dan warisan menjadi bagian dari keberkahan hidup, termasuk dalam usaha pertanian.
Pertanian dan Harapan Generasi Muda
Di tengah krisis regenerasi petani di Indonesia, pertanian sebenarnya menyimpan peluang besar bagi generasi muda. Selain menjadi sektor strategis dalam ketahanan pangan nasional, pertanian juga dapat menjadi jalan hidup yang penuh keberkahan jika dijalani dengan ilmu, kerja keras, dan ketakwaan.
Bertani bukan pekerjaan rendahan. Dalam Islam, profesi ini bahkan memiliki dimensi ibadah dan sedekah yang terus mengalir manfaatnya. Dari tanah yang diolah dengan niat baik, bukan hanya panen yang tumbuh, tetapi juga keberkahan hidup bagi diri sendiri dan orang lain.
Karena itu, penting bagi generasi muda untuk mulai melihat pertanian dengan cara pandang baru. Bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga profesi mulia yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan kebermanfaatan luas bagi kehidupan.










