Sejarah Syiah dalam Islam: Pengertian, Perkembangan, dan 5 Aliran Utama Secara Lengkap

Keimanan – #Islam #memiliki #perjalanan #sejarah #yang #sangat #panjang. Tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga mencakup dinamika politik, perdebatan pemikiran, hingga konflik perspektif yang turut membentuk peradaban. Salah satu momen paling krusial adalah wafatnya Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah.

Sejak saat itu, umat Islam memasuki fase baru tanpa kehadiran langsung Nabi sebagai pemimpin utama. Kondisi ini memunculkan berbagai perbedaan pandangan yang sebelumnya tidak tampak. Dari sinilah kemudian lahir kelompok-kelompok (firqah) dalam Islam, salah satunya adalah Syiah.
Apa Itu Syiah? Pengertian Awal dan Perkembangannya
Mengutip penjelasan Ali Muhammad as-Shalabi, istilah Syiah tidak bisa dilepaskan dari perkembangan historisnya. Pada masa awal Islam, khususnya di era kekhalifahan Utsman bin Affan, istilah Syiah belum memiliki makna teologis seperti sekarang.
Kala itu, Syiah hanya merujuk pada kelompok yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib dibandingkan Utsman. Dari sini muncul istilah:
- Syi’iyyun: pendukung Ali
- Utsmaniyyun: pendukung Utsman
Dengan demikian, Syiah pada fase awal hanyalah bentuk preferensi politik, bukan aliran akidah.
Baca juga: Doa Perlindungan Anak dari Ancaman Pedofilia di Era Digital: Ikhtiar Orang Tua Menjaga Buah Hati
Dalil Penjelasan dalam Bahasa Arab
التَّشَيُّعُ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ غَيْرُ التَّشَيُّعِ فِيمَا بَعْدَهُ، وَلِهَذَا كَانَ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ لَا يُسَمَّى شِيعِيًّا إِلَّا مَنْ قَدَّمَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ، وَلِذَلِكَ قِيلَ: شِيعِيٌّ وَعُثْمَانِيٌّ، فَالشِّيعِيُّ مَنْ قَدَّمَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ التَّعْرِيفُ لِلشِّيعَةِ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ: أَنَّهُمُ الَّذِينَ يُقَدِّمُونَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ فَقَطْ
Artinya:
“Syiah pada masa awal berbeda dengan Syiah pada masa setelahnya. Pada masa awal, seseorang tidak disebut Syiah kecuali jika ia mendahulukan Ali daripada Utsman…”
Seiring waktu, Syiah berkembang dari sekadar dukungan politik menjadi aliran dengan doktrin teologis seperti imamah dan konsep kemaksuman imam.
Macam-Macam Syiah dalam Sejarah Islam
Dalam perkembangannya, Syiah terbagi menjadi beberapa kelompok besar. Berikut lima aliran utama yang paling dikenal:
1. Syiah Kaisaniyah
Kelompok ini dinisbatkan kepada Kaisan, yang berkaitan dengan Muhammad bin al-Hanafiyah.
Ciri utama:
- Menganggap imam memiliki ilmu rahasia dan pengetahuan luas
- Memiliki keyakinan seperti reinkarnasi (tanasukh), hulul, dan raj’ah
- Menganggap ketaatan kepada imam sebagai inti agama
2. Syiah Zaidiyah
Kelompok ini mengikuti Zaid bin Ali.
Ciri utama:
- Imamah tidak terbatas pada satu garis keturunan
- Mengutamakan keturunan Fatimah yang memenuhi syarat kepemimpinan
- Memiliki pemikiran rasional, terpengaruh oleh Washil bin Atha
- Bersikap moderat terhadap sahabat Nabi
Kutipan Arab:
وَلَمَّا سَمِعَتْ شِيعَةُ الْكُوفَةِ هَذِهِ الْمَقَالَةَ مِنْهُ وَعَرَفُوا أَنَّهُ لَا يَتَبَرَّأُ مِنَ الشَّيْخَيْنِ رَفَضُوهُ حَتَّى أَتَى قَدَرُهُ عَلَيْهِ فَسُمِّيَتْ رَافِضَةً
Artinya:
“Mereka menolaknya karena tidak berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar, lalu disebut Rafidhah.”
3. Syiah Imamiyah
Kelompok ini meyakini bahwa kepemimpinan setelah Nabi telah ditetapkan untuk Ali bin Abi Thalib melalui penunjukan langsung (nash).
Ciri utama:
- Imamah adalah bagian pokok agama
- Imam dianggap memiliki otoritas spiritual dan politik
- Penunjukan imam diyakini bersifat ilahi
4. Syiah Ghulat (Ekstrem)
Kelompok ini dikenal karena sikap berlebihan terhadap imam.
Ciri utama:
- Mengangkat imam ke derajat ketuhanan
- Memiliki ajaran seperti:
- Tasybih (menyerupakan Tuhan dengan makhluk)
- Bada’
- Raj’ah
- Reinkarnasi
5. Syiah Isma’iliyah
Kelompok ini menetapkan kepemimpinan pada Ismail bin Jafar.
Ciri utama:
- Meyakini garis imamah melalui Ismail
- Terpecah dalam pandangan tentang wafatnya Ismail
- Menganggap mengenal imam sebagai kewajiban utama
Baca juga: 6 Tips Rumah Tangga Harmonis dalam Islam
Kesimpulan
Syiah dalam sejarah Islam awalnya hanyalah kelompok yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib dibandingkan Utsman bin Affan. Namun, seiring perkembangan zaman, ia berubah menjadi aliran teologis dengan berbagai doktrin dan pecahan kelompok.
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa dinamika pemikiran dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah, politik, dan sosial yang melingkupinya.
Wallahu a’lam bisshawab.











Pingback: Relasi Wahyu dan Akal dalam Islam: Jalan Menuju Ma‘rifatullah dan Kedekatan dengan Allah SWT - Keimanan