Isyarat Wafat Nabi Muhammad SAW: Kisah Haji Wada’, Sakit Rasulullah, hingga Hari-Hari Terakhir Beliau

Keimanan – #Wafatnya #Nabi #Muhammad SAW #bukan #hanya #menjadi #peristiwa #duka #bagi #keluarga, #sahabat, dan seluruh umat Islam. Peristiwa tersebut juga menyimpan banyak pelajaran penting dari sisi sejarah, keimanan, hingga teologi Islam. Jauh sebelum Rasulullah SAW wafat, sebenarnya telah muncul beberapa isyarat yang menunjukkan bahwa beliau akan segera meninggalkan umatnya untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Salah satu isyarat paling jelas tampak ketika Rasulullah SAW melaksanakan Haji Wada’, yaitu haji perpisahan yang menjadi ibadah haji terakhir beliau. Saat itu, Nabi Muhammad SAW mengumumkan kepada penduduk Madinah bahwa beliau akan melaksanakan ibadah haji. Kabar tersebut membuat kaum Muslimin dari berbagai wilayah berdatangan untuk menunaikan ibadah bersama Rasulullah SAW.

Peristiwa agung ini kemudian dikenal sebagai Haji Wada’. Dalam haji tersebut, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah yang sangat terkenal di Padang Arafah di hadapan puluhan hingga ratusan ribu jamaah.
Di antara isi khutbah tersebut terdapat kalimat yang menjadi isyarat kuat tentang dekatnya ajal Rasulullah SAW:
أَيُّهَا النَّاسُ اِسْمَعُوْا قَوْلِيْ فَإِنِّيْ لاَ أَدْرِيْ لَعَلِّيْ لاَ أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِيْ هذَا، بِهذَا الْمَوْقَفِ أَبَداً
Artinya:
“Wahai saudara-saudaraku, dengarlah baik-baik perkataanku ini. Sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali setelah tahun ini aku tidak akan lagi berjumpa dengan kalian di tempat ini selamanya.”
Kalimat tersebut membuat banyak sahabat merasakan kesedihan mendalam. Khutbah Haji Wada’ menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam karena berisi pesan terakhir Rasulullah SAW kepada umatnya.
Menurut Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum, khutbah tersebut disampaikan di hadapan sekitar 124.000 jamaah, sementara riwayat lain menyebut jumlahnya mencapai 144.000 orang. Adapun Muhammad Husain Haikal menyebut jumlah jamaah sekitar 90.000 hingga 114.000 orang.
Turunnya Surat Al-Ma’idah Ayat 3 sebagai Tanda Kesempurnaan Islam
Setelah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah di Arafah, turunlah firman Allah SWT dalam Surat Al-Ma’idah ayat 3:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
Artinya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini menjadi penanda bahwa agama Islam telah sempurna. Namun, di balik kesempurnaan tersebut, para sahabat tertentu menangkap isyarat lain, yaitu bahwa tugas kenabian Rasulullah SAW telah selesai.
Sahabat Umar bin Khattab RA bahkan menangis ketika ayat ini turun. Ketika ditanya alasan tangisannya, beliau menjawab:
إِنَّهُ لَيْسَ بَعْدَ الْكَمَالِ إِلَّا النُّقْصَانُ
Artinya:
“Sesungguhnya tidak ada lagi setelah kesempurnaan kecuali akan datang pengurangan.”
Jawaban Umar RA menunjukkan kedalaman pemahamannya terhadap kondisi Rasulullah SAW. Ia memahami bahwa sempurnanya agama menjadi pertanda bahwa Rasulullah SAW akan segera wafat.
Awal Sakit Nabi Muhammad SAW Setelah Haji Wada’
Sepulang dari Haji Wada’, kondisi kesehatan Rasulullah SAW mulai menurun. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau mulai merasakan sakit yang kemudian menjadi sebab wafatnya.
Pada masa tersebut, Rasulullah SAW masih tetap memikirkan kondisi umat Islam. Beliau bahkan mempersiapkan pasukan untuk menghadapi Romawi dan menunjuk Usamah bin Zaid sebagai pemimpin ekspedisi menuju wilayah Palestina.
Penunjukan Usamah bin Zaid menjadi perhatian banyak orang karena usianya yang masih sangat muda, sekitar 18 hingga 20 tahun. Sebagian kaum munafik meragukan kepemimpinannya.
Namun Rasulullah SAW tetap mempertahankan keputusan tersebut. Bahkan ketika sakit, beliau tetap keluar untuk menjelaskan alasan penunjukan Usamah kepada kaum Muslimin.
Syekh Sa’id Ramadhan Al-Buthi menjelaskan bahwa keputusan Nabi SAW mengandung pesan penting bahwa Islam tidak memandang seseorang dari usia, keturunan, atau status sosial, tetapi dari kemampuan dan ketakwaannya.
Beliau menjelaskan:
فإن شريعة الإسلام لا تستغرب ذلك ولا تستنكره، فما جاء الإسلام إلا ليحطم مقاييس الجاهلية التي كانوا بها يتفاضلون ويتفاوتون
Artinya:
“Syariat Islam tidak menganggap penunjukan Usamah sebagai sesuatu yang aneh. Islam datang justru untuk menghancurkan ukuran-ukuran jahiliyah yang dahulu mereka gunakan dalam membedakan manusia.”
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa Islam mengajarkan keadilan dan penghargaan berdasarkan kualitas diri, bukan semata senioritas atau keturunan.
Baca: Hukum Membaca Al-Qur’an di HP Tanpa Wudhu, Apakah Boleh? Ini Penjelasan Lengkap Ulama dan Dalilnya
Kondisi Rasulullah SAW Semakin Memburuk
Hari demi hari, sakit Rasulullah SAW semakin berat. Aisyah RA meriwayatkan bahwa ketika sakit, Nabi SAW sering membaca surat-surat perlindungan atau Al-Mu’awwidzat, kemudian meniupkannya ke telapak tangan dan mengusapkannya ke tubuh beliau.
Ketika sakit semakin parah dan beliau tidak mampu melakukannya sendiri, Aisyah RA yang membantu membacakan dan mengusap tubuh Rasulullah SAW.
Karena kondisi beliau semakin lemah, para istri Nabi akhirnya mengizinkan Rasulullah SAW dirawat di rumah Aisyah RA. Saat dipindahkan ke rumah tersebut, Rasulullah SAW sudah tidak mampu berjalan sendiri dan harus ditopang oleh Ali bin Abi Thalib serta Al-Fadhal bin Abbas.
Peristiwa ini menunjukkan sisi kemanusiaan Rasulullah SAW. Meski beliau adalah nabi dan kekasih Allah SWT, beliau tetap mengalami sakit sebagaimana manusia lainnya.
Tujuh Hari Menjelang Wafat Nabi Muhammad SAW
Menurut riwayat dalam Ar-Rahiqul Makhtum, perpindahan Rasulullah SAW ke rumah Aisyah terjadi sekitar tujuh hari sebelum beliau wafat.
Pada hari Rabu, lima hari sebelum wafat, Rasulullah SAW sempat pingsan karena sakit yang semakin berat. Setelah sadar, beliau meminta diambilkan air dari tujuh sumur berbeda untuk disiramkan ke tubuhnya.
Dengan izin Allah SWT, kondisi beliau sempat membaik. Rasulullah SAW lalu pergi ke masjid untuk menyampaikan khutbah terakhir kepada kaum Muslimin.
Di akhir khutbah tersebut, beliau bersabda:
إن عبدا خيره الله أن يؤتيه من زهرة الدنيا ما شاء، وبين ما عنده، فاختار ما عنده
Artinya:
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara kenikmatan dunia atau berada di sisi-Nya, maka ia memilih berada di sisi-Nya.”
Sebagian besar sahabat tidak memahami maksud sabda tersebut. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq RA langsung menangis karena menyadari bahwa “hamba” yang dimaksud Rasulullah SAW adalah beliau sendiri.
Melihat tangisan Abu Bakar, Rasulullah SAW kemudian memujinya dengan sabda:
إن من آمن الناس علي في صحبته وماله أبو بكر، ولو كنت متخذا خليلا غير ربي لاتخذت أبا بكر خليلا، ولكن أخوة الإسلام ومودته
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil selain Tuhanku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil.”
Peristiwa ini menjadi bukti kedekatan spiritual Abu Bakar dengan Rasulullah SAW.
Pelajaran Keimanan dari Sakit Rasulullah SAW
Sakit yang dialami Rasulullah SAW mengandung banyak pelajaran bagi umat Islam. Dalam ilmu akidah, para nabi memiliki sifat jaiz, yaitu sifat-sifat kemanusiaan seperti lapar, haus, dan sakit.
Hal tersebut tidak mengurangi kemuliaan mereka sebagai utusan Allah SWT.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya ikhtiar ketika sakit. Meski memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT, beliau tetap melakukan usaha lahiriah seperti meminta tubuhnya disiram air agar terasa lebih ringan.
Dari sini umat Islam belajar bahwa tawakal harus berjalan seiring dengan usaha dan ikhtiar.
Hari-Hari Terakhir dan Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Pada hari Kamis sebelum wafatnya, Rasulullah SAW masih sempat mengimami salat Magrib. Namun ketika waktu Isya tiba, beliau sudah tidak mampu keluar menuju masjid.
Aisyah RA kemudian meminta Abu Bakar Ash-Shiddiq RA untuk menggantikan Rasulullah SAW menjadi imam salat berjamaah. Sejak saat itu, Abu Bakar memimpin kaum Muslimin dalam salat.
Pada hari Sabtu atau Ahad, kondisi Rasulullah SAW sempat membaik. Dengan bantuan dua sahabat, beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan salat Zuhur. Ketika Abu Bakar hendak mundur dari posisi imam, Rasulullah SAW memberi isyarat agar ia tetap melanjutkan salat.
Sehari sebelum wafat, Rasulullah SAW memerdekakan budak-budaknya, bersedekah tujuh dinar, serta menyerahkan perlengkapan perangnya kepada kaum Muslimin.
Baca: Keutamaan Bertani dalam Islam: 7 Syarat Meraih Keberkahan Pertanian Menurut Ulama dan Hadits Lengkap
Hingga akhirnya, pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun lebih beberapa hari.
Wafatnya Rasulullah SAW menjadi duka besar bagi seluruh umat Islam. Namun perjuangan, ajaran, dan keteladanan beliau tetap hidup sepanjang zaman sebagai cahaya bagi umat manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab.











Pingback: Keutamaan Malam Idul Adha: Hadits, Kajian Sanad, dan Anjuran Menghidupkan Malam Hari Raya Menurut Ulama - Keimanan