Keutamaan Malam Idul Adha: Hadits, Kajian Sanad, dan Anjuran Menghidupkan Malam Hari Raya Menurut Ulama

Jokbangka – #Malam #sebelum #hari #raya #Idul #Adha #memiliki #banyak #keutamaan #dan #fadhilah yang sangat dianjurkan untuk dihidupkan dengan berbagai bentuk ibadah. Dalam tradisi umat Islam, malam hari raya menjadi momentum memperbanyak takbir, zikir, doa, dan ibadah sebagai bentuk syiar agama Islam.
Di Indonesia sendiri, tradisi menyambut malam Idul Adha telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat muslim. Mulai dari takbiran di masjid, pembacaan tahlil, tasbih, tahmid, hingga takbir keliling yang dilakukan bersama-sama. Tradisi tersebut bukan sekadar budaya, melainkan juga sarana pendidikan keagamaan bagi generasi muda agar semakin mencintai syiar Islam.
Namun demikian, pelaksanaan tradisi tersebut tetap perlu menjaga ketertiban, kenyamanan masyarakat, dan menghindari mudharat atau bahaya yang dapat merugikan orang lain.
Hadits Tentang Keutamaan Malam Hari Raya
Anjuran menghidupkan malam Idul Adha berakar dari sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang cukup populer dalam literatur fiqih mazhab Syafi’i.
Berikut bunyi hadits tersebut:
مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ
Artinya:
“Siapa saja yang menghidupkan malam dua hari raya karena mengharap pahala Allah, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika banyak hati manusia mati.”
(HR Ibnu Majah)
Hadits ini menjadi dasar bagi banyak ulama dalam menganjurkan umat Islam agar menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha dengan ibadah.
Kajian Sanad Hadits Keutamaan Malam Hari Raya
Para ulama hadits memiliki pandangan berbeda mengenai kualitas hadits tersebut. Sebagian ahli hadits seperti Syekh Al-Albani menilai salah satu jalur periwayatannya sebagai hadits dha’if bahkan ada yang menyebut sangat lemah.
Kelemahan hadits ini disebabkan adanya beberapa perawi yang dinilai bermasalah dalam sanadnya. Di antaranya adalah Baqiyyah bin Al-Walid yang dikenal sering melakukan tadlis, yaitu menyembunyikan cacat dalam sanad periwayatan hadits.
Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa hadits tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalur yang sebagian besar mengandung perawi lemah.
Beliau menukil pendapat para ulama:
- Terdapat perawi bernama Umar bin Harun yang dinilai dha’if oleh banyak ulama.
- Dalam riwayat lain terdapat Bisyr bin Rafi’ yang bahkan dituduh memalsukan hadits.
- Ada pula sanad yang berisi perawi majhul atau tidak dikenal.
Walaupun demikian, sebagian ulama tetap membolehkan penggunaan hadits dha’if untuk keutamaan amal (fadhailul a’mal) selama kelemahannya tidak terlalu parah.
Penjelasan Imam An-Nawawi Tentang Hadits Dha’if
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan:
هكذا جاء في رواية الشافعي وابن ماجه، وهو حديث ضعيف رويناه من رواية أبي أمامة مرفوعا وموقوفا، وكلاهما ضعيف، لكن أحاديث الفضائل يتسامح فيها كما قدمناه في أول الكتاب
Artinya:
“Hadits ini diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dan Ibnu Majah. Hadits tersebut memang lemah, baik dalam riwayat marfu’ maupun mauquf. Akan tetapi hadits-hadits tentang keutamaan amal diberikan toleransi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.”
Keterangan Imam An-Nawawi ini menjadi salah satu dasar penting mengapa banyak ulama fiqih tetap menganjurkan menghidupkan malam Idul Adha.
Makna “Hati Tidak Akan Mati” dalam Hadits
Para ulama memberikan penjelasan mendalam terkait makna hati yang hidup dalam hadits tersebut.
1. Penjelasan Al-Munawi
Menurut Al-Munawi, hati yang mati adalah hati orang-orang yang:
- Tenggelam dalam dosa
- Lalai dari mengingat Allah
- Terlalu mencintai dunia
- Jauh dari petunjuk agama
Orang yang menghidupkan malam hari raya dengan ibadah diharapkan mendapatkan hati yang selalu hidup dengan cahaya iman.
2. Penjelasan As-Sindi
As-Sindi menjelaskan bahwa matinya hati disebabkan banyaknya dosa dan kemaksiatan. Karena itu, malam hari raya menjadi kesempatan untuk memperbanyak taubat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Amalan Sunnah pada Malam Idul Adha
Menghidupkan malam Idul Adha dapat dilakukan dengan berbagai ibadah yang dianjurkan syariat Islam, di antaranya:
1. Memperbanyak Takbir
Lafaz takbir Idul Adha yang umum dibaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.”
2. Membaca Zikir dan Tahmid
Beberapa bacaan yang dianjurkan:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Artinya:
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”
3. Shalat Isya dan Subuh Berjamaah
Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa menghidupkan malam hari raya minimal dilakukan dengan:
- Shalat Isya berjamaah
- Berniat kuat melaksanakan shalat Subuh berjamaah
4. Memperbanyak Doa
Imam As-Syafi’i menyebut malam Idul Adha termasuk malam yang penuh keberkahan dan diharapkan menjadi waktu dikabulkannya doa.
Pandangan Ulama Fiqih Tentang Menghidupkan Malam Idul Adha
Imam As-Syafi’i
Dalam kitab Al-Umm, Imam As-Syafi’i menyebut bahwa beliau menyukai amalan menghidupkan malam hari raya dan memandangnya sebagai amalan sunnah.
Imam An-Nawawi
Dalam Al-Majmu’, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa meskipun haditsnya dha’if, amalan tersebut tetap dianjurkan dalam konteks keutamaan amal.
Syekh Zakariya Al-Anshari
Beliau berpendapat anjuran menghidupkan malam hari raya tidak sampai pada derajat sunnah muakkad karena landasan haditsnya dha’if, namun tetap dianjurkan.
Tradisi Takbiran di Indonesia Sebagai Syiar Islam
Tradisi takbiran yang berkembang di Indonesia memiliki nilai dakwah dan syiar yang sangat kuat. Suara takbir yang berkumandang di masjid, mushala, hingga jalan-jalan menjadi simbol kegembiraan umat Islam dalam menyambut hari raya.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan mengenalkan nilai-nilai agama kepada generasi muda.
Meski demikian, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan masyarakat agar tidak menimbulkan mudharat.
Baca: Hukum Membaca Al-Qur’an di HP Tanpa Wudhu, Apakah Boleh? Ini Penjelasan Lengkap Ulama dan Dalilnya
Kesimpulan
Malam sebelum Idul Adha merupakan malam yang memiliki banyak keutamaan dalam Islam. Umat muslim dianjurkan menghidupkannya dengan berbagai ibadah seperti takbir, zikir, doa, dan shalat berjamaah.
Walaupun hadits tentang keutamaan malam hari raya berstatus dha’if menurut sebagian ulama hadits, banyak ulama fiqih seperti Imam As-Syafi’i, Imam An-Nawawi, dan Syekh Zakariya Al-Anshari tetap membolehkan pengamalannya dalam konteks keutamaan amal (fadhailul a’mal).
Menghidupkan malam Idul Adha bukan hanya menjadi bentuk ibadah pribadi, tetapi juga bagian dari syiar Islam yang memiliki nilai pendidikan dan sosial bagi umat muslim.
Wallahu a’lam bish shawab.










