2 Tanda Ibadah Puasa Ramadhan Diterima Oleh Allah Beserta Hikmah & Penerapannya

Keimanan – #Puasa #Ramadhan #bukan #sekadar #menahan #lapar #dan #haus, #tetapi #merupakan #sebuah #ibadah yang memiliki dimensi spiritual, moral, dan sosial yang tinggi. Ibadah ini diwajibkan Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai sarana untuk meningkatkan ketaqwaan (taqwa) seorang hamba kepada Allah.
Baca juga: Tafsir Mimpi dalam Islam

Namun, pertanyaan besar yang sering menghinggapi umat Islam adalah: Apakah puasa yang kita lakukan selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT? Karena dapat terjadi seseorang berpuasa namun tanpa mendapatkan nilai pahala atau manfaat spiritual yang maksimal. Hal ini disampaikan dalam sebuah sabda Nabi Muhammad ﷺ:
كَثِيرٌ مِنَ الصَّائِمِ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
(Begitu banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan haus saja).
Kita berpotensi melaksanakan ibadah puasa dengan menyisakan lapar dan dahaga. Seyogyanya, kita dari awal menyadari akan hal ini. Bisa jadi yang dimaksud oleh Nabi adalah diri kita sendiri.
Beruntungnya, para ulama merumuskan tanda diterimanya puasa seseorang. Kendatipun segala hal yang berkaitan dengan puasa sepenuhnya ada dalam prerogatif Allah, terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan Allah menerima ibadah puasa seseorang.
Baca juga: Hukum Memberikan Uang kepada Orang Tua Ketika Gaji Pas-Pasan
Salah satu ulama dari kalangan Hanabilah (madzhab Hanbali) bernama Ibnu Rajab menjelaskan tanda-tanda yang mengindikasikan diterimanya ibadah puasa. Dalam kitabnya Lathaiful Ma’arif setidaknya dijelaskan bahwa ada dua tanda ibadah puasa seseorang diterima.
Walaupun tanda yang dijelaskan tidak absolut, kemungkinan diterimanya cukup besar. Uniknya, tanda-tanda itu berdasar pada pola tindakan seseorang dalam berpuasa, bukan dari eksternal.
Terbiasa Berpuasa di Bulan Syawal
Salah satu tanda seseorang diterima ibadah puasanya selama bulan Ramadhan adalah melanjutkan berpuasa di bulan Syawal. Lebih tepatnya hari kedua pada bulan Syawal sampai pada hari ketujuh. Tidak hanya mendapatkan keutamaan-keutamaan berpuasa di bulan Syawal seperti setara berpuasa selama satu tahun penuh, namun menjadi indikator diterimanya puasa seseorang.
أَنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صَامَ رَمَضَانَ عَلاَمَةٌ عَلىَ قَبُولِ صَوْمِ رَمَضَانَ؛ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالى إِذَا تَقَبَّلَ عَمَلَ عَبْدٍ وَفَّقَهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ بَعْدَهُ
Artinya, “Memiliki kebiasaan berpuasa setelah puasa bulan Ramadhan (puasa bulan Syawal) merupakan tanda dari diterimanya puasa Ramadhan. Sebab Allah menerima amal seseorang bergantung pada amal shalih sesudahnya,” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif, [Riyadh, Dar Ibnu Khuzaimah: 2007], halaman 494).
Berdasar pada kaidah “suatu amal saleh dapat diterima jika melaksanakan amal saleh setelahnya” menjadikan berpuasa di bulan Syawal menjadi salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan. Hal yang sama berlaku pada setiap amal. Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk terus melakukan amal saleh terus menerus secara berturut-turut untuk memungkinkan diterimanya amal. Sehingga dalam kehidupan sehari-harinya selalu diiringi dengan amal saleh.
Berbeda ketika melakukan amal buruk setelah amal saleh. Jika seseorang mulanya beramal saleh namun diakhiri dengan amal yang buruk, maka amal saleh yang sebelumnya dilakukan akan tertolak dengan sendirinya (Lathaiful Ma’arif, halaman 494).
.
Berkomitmen Tidak Mengulangi Maksiat
Tanda berikutnya adalah memiliki kecondongan hati untuk tidak mengulangi maksiat di waktu mendatang. Hal ini merupakan poin utama dalam bertobat. Melaksanakan peribadatan berbanding lurus dengan komitmen untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan, baik maksiat yang pernah dilakukan, maupun yang belum pernah dilakukan.
Hanya saja, kondisi hati yang masih cenderung untuk mengulangi maksiat memiliki konsekuensi tersendiri. Kendatipun secara tampak seseorang sedang melaksanakan suatu peribadatan tetapi kondisi hatinya masih condong pada kemaksiatan, peribadatan yang demikian tidak dapat diterima.
Begitu pun dalam beribadah puasa di saat Ramadhan. Seseorang benar-benar harus memiliki keteguhan hati untuk tidak melakukan maksiat di luar waktu bulan puasa. Sebab seseorang yang berpuasa lalu berucap istighfar namun hatinya bertautan pada kemaksiatan, potensi diterimanya ibadah puasa sangat kecil.
فمَنِ اسْتَغْفَرَ بِلِسَانِهِ وَقَلْبُهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ مَعْقُوْد، وَعَزْمُهُ أنْ يَرْجِعَ إلَى المَعَاصِي بَعْدَ الشَّهْرِ ويَعُوْدُ؛ فَصَوْمُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ، وَبَابُ القَبُولِ عَنْهُ مَسْدُوْدٌ
Artinya, “Siapa yang meminta ampunan secara lisan akan tetapi hatinya bertaut pada kemaksiatan, serta merencanakan untuk kembali melakukan maksiat setelah bulan puasa, maka puasanya ditolak dan pintu penerimaan tobat ditutup,” (Lathaiful Ma’arif, halaman 484).
Tajuddin As-Subki mengutip pernyataan salah satu ulama syafi’iyah bernama Abu Ali Al-Ashbahani. Dalam sebuah majelis, Al-Ashbahani ditanya oleh seseorang mengenai tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan. Beliau menjawab, bahwa tanda ibadah puasa diterima ketika seseorang meninggal di bulan Syawal tanpa melakukan tindakan buruk (maksiat). Al-Ashbahani meninggal pada bulan Syawal di hari Senin pada tahun lima ratus dua puluh lima hijriah,” (Thabaqatus Syafi’iyah, [Beirut, Dar Ihya’: 1992], Juz VII, halaman 26).
Baca juga: Makna dan Hikmah Nuzulul Qur’an di Bulan Ramadhan
Dua tanda yang sudah dipaparkan dapat dijadikan acuan serta indikasi puasa Ramadhan kita akan diterima oleh Allah atau tidak. Walakin, sekali lagi, segala pertimbangan ibadah puasa sepenuhnya bergantung pada Allah, setidaknya kita memiliki gambaran atas kualitas puasa kita sendiri. Semoga puasa tahun ini dan puasa tahun-tahun berikutnya diterima oleh Allah. Amin. Wallahu A’lam
Sumber: islam.nu.or.id











Pingback: Apakah Istri Menolak Poligami Termasuk Durhaka? Penjelasan Fiqih, Hukum Islam & Batasannya Lengkap - Keimanan