5 Ciri Mimpi yang Benar dan Punya Arti Menurut Ibnu Sirin, Lengkap Dalil dan Penjelasannya

Keimanan – #Mimpi #sering #kali #menjadi #pengalaman #spiritual #yang #membekas #dalam #ingatan #seseorang. Dalam ajaran Islam, mimpi tidak sekadar bunga tidur, tetapi dapat menjadi isyarat, kabar gembira, bahkan peringatan dari Allah SWT. Ulama tafsir mimpi terkemuka seperti Ibnu Sirin menjelaskan bahwa tidak semua mimpi memiliki makna. Ada mimpi yang benar dan ada pula mimpi yang bersifat semu. Lalu, bagaimana cara membedakannya? Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan kitab Mu’jam Tafsiril Ahlam.
Baca juga: Khutbah Jumat Bulan Sya’ban: Keutamaan Silaturahim, Ziarah, dan Persiapan Menyambut Ramadhan

Menurut Ibnu Sirin, dalam kitab Mu’jam Tafsiril Ahlam, mimpi yang benar berasal dari Allah. Biasanya, mimpi jenis ini berisi kabar gembira atau peringatan bagi orang yang mengalaminya. Sementara itu, mimpi yang tidak benar berasal dari setan. Isinya cenderung menakutkan, menyedihkan, menipu, atau hal-hal lain yang mengganggu. Apabila seseorang mengalami mimpi jenis kedua, dianjurkan untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun.
وأن المكروه من المنامات هو الذي يضاف إلى الشيطان الذي أمر النبي ﷺ بكتمانه والتفل عن يساره ووعد فاعل ذلك أنها لا تضره
Artinya:
“Mimpi yang tidak disukai adalah mimpi yang dinisbatkan kepada setan. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan untuk tidak menceritakannya, meludah ke kiri tiga kali, dan memastikan bahwa hal itu tidak akan membahayakannya.” (Ibnu Sirrin, Mu’jam Tafsiril Ahlam, Abu Dhabi: Maktabah As-Shafa, 2008, h. 7)
1. Sumber Mimpi
Mimpi yang benar dan memiliki arti biasanya datang dari Allah dalam bentuk kabar gembira, peringatan, atau petunjuk. Mimpi ini bisa membawa hikmah yang bermanfaat dalam kehidupan nyata.
Sebaliknya, mimpi palsu datangnya dari setan atau bisikan jiwa yang bertujuan untuk memberikan ketakutan, kesedihan, atau menimbulkan fitnah. Menurut Ibnu Sirrin, mimpi palsu sebaiknya diabaikan namun tetap memohon perlindungan kepada Allah. Rasulullah bersabda:
الرُّؤْيَا مِنَ اللهِ، وَالحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ
Artinya:
“Mimpi (baik) itu datang dari Allah dan mimpi (buruk) itu datang dari setan.” (HR Bukhari)
Dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa pada hakikatnya semua mimpi diciptakan dan berasal dari Allah. Diksi ar-ru’ya (mimpi baik) dinisbatkan kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan kepada-Nya. Sementara itu, diksi al-hulm (mimpi buruk) dinisbatkan kepada setan karena dalam prosesnya ada campur tangan setan.
Baca juga: Tafsir Surat At-Taubah Ayat 34: Larangan Menimbun Harta, Makna Iktinaz & Hikmah Keadilan Sosial
2. Kondisi Pemimpi
Mimpi yang benar biasanya dialami oleh orang yang memiliki kondisi psikologis stabil dan iman yang kuat sehingga membuat mimpi menjadi lebih akurat dan bermakna. Sebaliknya, mimpi yang hanya bunga tidur biasanya muncul dalam kondisi psikologis yang tidak stabil, misalnya karena pikirannya sedang kacau atau kondisi perut sedang kenyang dan lapar.
Ibnu Sirrin menjelaskan:
وكذلك ما يغشى قلبَ النَّائم الممتلئ من الطَّعام، أو الخالي منه كالذي يصيبه من ذلك في اليقظة؛ إذ لا دلالة منه، ولا فائدة فيه
Artinya:
“Demikian pula halnya dengan apa yang menyelimuti hati orang yang tidur, baik ia dalam keadaan penuh oleh makanan maupun kosong darinya, sama seperti yang menimpanya ketika terjaga. Karena hal itu tidak memiliki petunjuk dan tidak ada faedah di dalamnya.” (Mu’jam Tafsiril Ahlam, h. 7)
3. Suci dari Hadats
Mimpi yang benar lebih mungkin terjadi dan dialami oleh orang yang tidur dalam keadaan suci dari hadats kecil maupun hadats besar. Kesucian lahir dan batin membuka peluang mendapatkan petunjuk ilahi melalui mimpi. Sebaliknya, orang yang tidur dalam kondisi junub lebih rentan terhadap gangguan setan dalam mimpi.
Abu Darda berkata:
إذا نام الرجل عُرِج بروحه إلى السماء حتى يؤتى بها العرش، فإن كان طاهراً أَذْنَ لها بالسجود، وإن جُنُباً لم يؤذن لها في السُّجُود
Artinya:
“Jika seseorang tidur, ruhnya diangkat hingga dibawa ke ‘Arsy. Jika ia dalam keadaan suci, ruhnya diizinkan untuk bersujud. Jika ia dalam keadaan junub, maka tidak diizinkan untuk bersujud.” (Mu’jam Tafsiril Ahlam, h. 13)
4. Waktu Mimpi
Waktu mimpi yang benar biasanya terjadi di sepertiga malam atau waktu sahur karena lebih dekat dengan rahmat Allah dan relatif aman dari gangguan setan.
Sebagaimana sabda Rasulullah:
أصدق الرؤيا بالأسحار
Artinya:
“Mimpi yang paling benar adalah di waktu sahur.” (HR Ad-Darimi)
Selain itu, mimpi yang benar juga dapat terjadi di waktu qailullah (menjelang Zuhur) dan musim subur atau musim panen. Sedangkan mimpi yang hanya bunga tidur lebih sering terjadi di musim dingin.
5. Jelas dan Mudah Diingat
Mimpi yang benar biasanya tergambar jelas, runtut, dan tetap diingat setelah bangun tidur. Mimpi tersebut membawa pesan positif, peringatan, atau petunjuk yang bermanfaat. Sebaliknya, mimpi palsu cenderung membingungkan, campur aduk, dan mudah dilupakan.
Baca juga; Surat Al-Jumu’ah: Keutamaan, Asbabun Nuzul, Kandungan Ayat, dan Perintah Sholat Jum’at Lengkap
Kesimpulan
Demikian 5 ciri mimpi yang benar dan berpotensi memiliki arti sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sirrin. Meski demikian, sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa tafsir mimpi bersifat dinamis. Kehidupan manusia tidak ditentukan oleh mimpi, melainkan oleh takdir dan ketentuan Allah SWT. Oleh karena itu, sikap terbaik adalah mengambil hikmah dari mimpi yang baik dan mengabaikan mimpi buruk. Wallahu a’lam.
Sumber: islam.nu.or.id










