Kisah Nabi Dawud AS dan 100 Istri: Tafsir QS Shad Ayat 22-24 Lengkap dengan Hikmah Kehidupan

Keimanan – #Meskipun #bergelar #Rasul, #hal #ini #tidak #menjadikan #seorang #nabi #terlepas #dari #kemungkinan #melakukan #kekeliruan #dalam #hidupnya. Dalam ajaran Islam, kesempurnaan mutlak hanya dimiliki oleh Allah SWT. Para nabi tetaplah manusia yang memiliki sifat kemanusiaan, namun mereka senantiasa berada dalam bimbingan wahyu.
Baca juga: Hukum Menafkahi Orang Tua Tanpa Sepengetahuan Istri dalam Islam
Kesalahan yang terjadi pada seorang rasul bukanlah dalam kapasitasnya sebagai penyampai wahyu, melainkan sebagai manusia biasa. Justru, peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia.
Salah satu kisah penting adalah teguran Allah kepada Nabi Dawud AS yang diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam QS Shad ayat 22–24.

Teks Arab, Latin, dan Terjemahan QS Shad Ayat 22–24
Ayat 22
اِذْ دَخَلُوْا عَلٰى دَاوٗدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوْا لَا تَخَفْۚ خَصْمٰنِ بَغٰى بَعْضُنَا عَلٰى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَآ اِلٰى سَوَاۤءِ الصِّرَاطِ
Latin:
Idz dakhalû ‘alâ Dâwûda fa fazi‘a min-hum qâlû lâ takhaf, khashmâni baghâ ba‘dlunâ ‘alâ ba‘dlin faḥkum bainanâ bil-ḥaqqi wa lâ tusyṭiṭ wa hdina ilâ sawâ’is-ṣirâṭ.
Artinya:
“Ketika mereka masuk menemui Dawud, dia terkejut karena kedatangan mereka. Mereka berkata, ‘Jangan takut! Kami berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka berilah keputusan di antara kami dengan adil dan jangan menyimpang dari kebenaran, serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus.’”
Ayat 23
اِنَّ هٰذَآ اَخِيْ ۗ لَهٗ تِسْعٌ وَّتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَّلِيَ نَعْجَةٌ وَّاحِدَةٌ ۗ فَقَالَ اَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِيْ فِى الْخِطَابِ
Latin:
Inna hâdzâ akhî, lahû tis‘uw wa tis‘ûna na‘jatan wa liya na‘jatun wâḥidah, fa qâla akfilnîhâ wa ‘azzanî fil-khiṭâb.
Artinya:
“Sesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku hanya mempunyai seekor saja. Lalu dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkanku dalam perdebatan.”
Ayat 24
قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ اِلٰى نِعَاجِهٖۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ الْخُلَطَاۤءِ لَيَبْغِيْ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَقَلِيْلٌ مَّا هُمْۗ وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ ۩
Latin:
Qâla laqad ẓalamaka bisu’âli na‘jatika ilâ ni‘âjih, wa inna katsîran minal-khulathâ’i layabghî ba‘ḍuhum ‘alâ ba‘ḍin illalladzîna âmanû wa ‘amiluṣ-ṣâliḥâti wa qalîlum mâ hum, wa ẓanna Dâwûdu annamâ fatannâhu fastaghfara rabbahû wa kharra râki‘an wa anâb.
Artinya:
“Dia (Dawud) berkata, ‘Sungguh dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu untuk digabungkan dengan kambing-kambingnya. Sesungguhnya banyak orang yang berserikat itu saling berbuat zalim, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan mereka itu sedikit.’ Dawud menyadari bahwa Kami mengujinya, maka ia memohon ampun kepada Tuhannya dan tersungkur serta bertobat.”
Baca jiuga: Kisah Bal’am bin Ba’ura: Ulama yang Tersesat karena Hawa Nafsu (QS Al-A’raf 175 Lengkap Arab & Tafsir
Tafsir Ulama tentang QS Shad Ayat 22–24
Tafsir Jalalain
Dalam Tafsir Jalalain, Syekh Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan bahwa dua orang yang datang kepada Nabi Dawud AS sebenarnya adalah malaikat yang menyamar.
Mereka menyampaikan kisah tentang seseorang yang memiliki 99 kambing dan ingin mengambil satu kambing milik saudaranya. Ini merupakan simbol dari kondisi Nabi Dawud yang memiliki banyak istri.
وَكَانَ لَهُ تِسْع وَتِسْعُونَ امْرَأَة وَطَلَبَ امْرَأَة شَخْص لَيْسَ لَهُ غَيْرهَا وَتَزَوَّجَهَا وَدَخَلَ بِهَا
Artinya:
“Dia memiliki 99 istri, lalu menginginkan istri seseorang yang tidak memiliki selain itu, kemudian ia menikahinya.”
Peristiwa ini merupakan bentuk teguran halus dari Allah SWT agar Nabi Dawud menyadari kekhilafannya.
Tafsir Ath-Thabari
Menurut Imam Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan, kedatangan dua malaikat tersebut terjadi secara tidak biasa, yakni masuk ke mihrab tanpa izin dan pada waktu yang tidak lazim.
Hal ini membuat Nabi Dawud terkejut dan sempat merasa takut. Namun, malaikat tersebut menenangkan dan meminta beliau memutuskan perkara dengan adil.
Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa ungkapan “mengalahkanku dalam perdebatan” menunjukkan kekuatan argumentasi dan posisi dominan pihak yang memiliki banyak kambing.
Kronologi Kisah Nabi Dawud dan Istri ke-100
Dalam beberapa riwayat tafsir, disebutkan bahwa Nabi Dawud AS pernah melihat seorang wanita cantik dari tempat ibadahnya. Setelah mencari tahu, diketahui bahwa wanita tersebut telah bersuami, yaitu seorang prajurit bernama Urya.
Kemudian, Nabi Dawud mengatur strategi perang yang menempatkan suami wanita tersebut dalam posisi berbahaya hingga akhirnya gugur. Setelah itu, Nabi Dawud menikahi wanita tersebut.
Peristiwa ini kemudian ditegur oleh Allah SWT melalui kisah dua orang yang berselisih sebagai bentuk ujian dan peringatan.
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Nabi Dawud AS
1. Kesempurnaan Hanya Milik Allah
Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk nabi. Namun, mereka segera bertobat saat menyadari kesalahan.
2. Pentingnya Keadilan
Kisah ini mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan dalam segala kondisi, bahkan oleh seorang pemimpin sekalipun.
3. Bahaya Hawa Nafsu
Keinginan yang tidak dikendalikan dapat menjerumuskan pada ketidakadilan.
4. Segera Bertobat
Nabi Dawud memberikan teladan luar biasa dengan segera beristighfar dan kembali kepada Allah.
5. Dunia Tidak Pernah Memuaskan
Kisah ini menjadi refleksi bahwa manusia cenderung tidak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Baca juga: Kisah Tsabit dan Buah Apel: Pelajaran Kejujuran yang Mengubah Takdir
Kesimpulan
Kisah Nabi Dawud AS dalam QS Shad ayat 22–24 memberikan pelajaran mendalam tentang keadilan, pengendalian diri, dan pentingnya taubat. Teguran Allah kepada Nabi Dawud bukanlah bentuk hukuman semata, melainkan kasih sayang agar beliau kembali ke jalan yang benar.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk senantiasa introspeksi diri dan tidak larut dalam keinginan duniawi yang tak pernah ada habisnya.
Wallahu a’lam.










