Hikmah Tidak Memotong Kuku dan Kumis Selama 10 Hari: Penjelasan Sunnah dan Dalilnya

Keimanan – #Dalam #tradisi #Islam, #menjaga #fitrah #dengan #memotong #kuku dan #mencukur #kumis #merupakan #amalan #yang #dianjurkan secara rutin, terutama setiap pekan menjelang Jumat. Namun, bagi mereka yang berniat berqurban di bulan Dzulhijjah, terdapat satu sunnah khusus yang mengharuskan menahan diri dari memotong kuku, mencukur kumis, atau menggunting rambut selama sepuluh hari pertama Dzulhijjah hingga hewan qurban disembelih. Sikap ini bukan sekadar ritual fisik, tetapi mengandung hikmah spiritual yang mendalam: bentuk pengorbanan dan ketaatan kepada perintah Rasulullah SAW serta cara untuk menguatkan rasa cinta pada sunnah-Nya. Dalil-dalil yang disampaikan dalam artikel ini memberikan penjelasan komprehensif tentang alasan syariat di balik larangan ini dan maknanya bagi seorang muslim yang beriman.
Baca juga: Obat Penyakit Bodoh: Makna, Penyebab, Cara Menghadapi & Solusi Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Sebagaimana terdapat dalam hadis- hadis, yang di antaranya adalah berikut ini:
عن أبي هريرة: الفطرة خمس أو خمس من الفطرة الختان والاستحداد ونتف الإبط وتقليم الأظفار وقص الشارب
Artinya: Amalan sunnah itu ada lima, atau lima dari ajaran fitrah; khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis. (Shohih Bukhari, 5/ 2209).
Waktunya biasanya satu pekan sekali atau tepatnya di hari Jumat. Melaksanakan sunnah artinya aktualisasi meneladani dan mencintai Rasulullah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: Wahai putraku, ini adalah sunnahku. Dan barang siapa menghidupkan sunnahku, maka dia telah mencintaiku, dan barang siapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga. (Sunan At- Tirmidzi, 10/197).
Kecintaan pada Rasulullah terbukti dengan mencintai sunnahnya. Ketika seorang muslim memotong kuku, atau menghilangkan kotoran di badannya dan ia melakukannya dengan kesadaran penuh bahwa ia melakukannya karena mencintai Rasulullah dan ingin meneladaninya.
Maka, bukan hanya ada rasa optimis akan janji Rasulullah bahwa seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya. Namun ada kebersihan fisik yang ia dapat, terbiasa kuku pendek, kumis dan rambut rapih setiap pekan.
Baca juga: Hikmah Taqwa, Muhasabah & Ilmu Menurut Al-Qur’an dan Sunnah
Satu sisi, saat menjelang Idul Adha, bagi yang berniat berkorban disunnahkan untuk tidak memotong kuku, mencukur kumis dan rambut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu laihi wassallam:
“Jika masuk bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikit pun dari rambut dan kukunya.” (HR Muslim)
Sunnah tersebut berlaku hingga hewan kurban dari orang yang berkorban, hewannya selesai dipotong. Selain itu, perlu diperhatikan bahwasanya sunnah ini hanya berlaku bagi orang berkurban saja, tidak untuk anggota keluarga lainnya.
Inilah yang menarik, biasanya satu pekan potong kuku dan cukur kumis, ini harus menunggu 3 hari lagi saat Idul Adha untuk menunaikan sunnah lain. Sehingga ada rasa risih saat kuku sedikit panjang dan kumis sedikit panjang juga. Rasanya tidak biasa dan tidak sabar menunggu waktu Idul Adha atau waktu menyembelih hewan kurban karena mau segera potong kuku dan kumis.
Ada pertanyaan dari anak, “Bi, mengapa ada laki-laki yang tidak berumis dan berjenggot,” tanyanya polos
“Tidak tahu ya Mas, semua itu pemberian Allah,” jawab saya sekenanya.
“Mengapa jenggot dan kumis ada yang berubah warna putih,” tanyanya kembali dengan lugunya sambil pegang-pegang jenggot saya yang sebagian warna putih.
“Tidak tahu juga mas,” jawab saya, betul-betul tidak tahu
“Kalau kuku ini, kapan memanjangnya, pagi, sore atau malam. Kok tiba-tiba kuku jadi panjang?,” tanyanya sambil menunjukkan kukunya yang mulai panjang karena 10 hari belum dipotong.
“Tidak tahu kapan kuku kita tumbuh memanjangnya,” jawab saya apa adanya.
Terkadang pertanyaan-pertanyaan anak yang sederhana, seringkali orang tua kesulitan memberikan jawaban. Pertanyaan bukan salah karena itu realita yang mereka lihat sehari-hari dan memang realita itu mengundang pertanyaan bagi yang belum paham.
Orang tua biasanya tidak mau tahu, karena sudah bertahun-tahun seperti itu, rasa ingin tahunya tidak sebesar anak-anak.
Pertanyaan ini juga terkait dengan akidah, tauhid atau bisa diarahkan untuk menguatkan keyakinan atas kekuasaan Allah dan lemahnya manusia. Ada hal yang melekat tumbuh di manusia tapi tidak berdaya dan tidak tahu apa yang terjadi. Seperti memutihnya kumis dan memanjangnya kuku.
Baca juga: Hikmah Menjaga Akhlak & Adab dalam Khilafiyah Islam
Diperlukan pengorbanan untuk bisa memahami dan memahamkan tentang sunnah fitrah ini. Bahwa dibalik perintah Allah dan Rasulullah pasti ada hikmahnya yang luar biasa dan itu untuk kebaikan orang-orang beriman. Akal dan nalar manusia saja yang terbatas untuk bisa memahaminya dengan baik. Wallahu a’lam bis shawwab.
Karya: ABDUL GHOFAR HADI – Sumber: hidayatullah.or.id










